Akademisi IAIN Palu uraikan upaya deradikalisasi di AICIS

Akademisi Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Palu, Sulawesi Tengah, Dr Lukman S Thahir menyampaikan gagasan tentang mekanisme pendekatan deradikalisasi dalam rangka mencegah tumbuh kembang gerakan radikalisme di tanah air, dalam dalam konferensi intelektual muslim bertajuk "Annual International Conference on Islamic Studies (AICIS) tahun 2019.

Lukman Thahir menyampaikan pendekatan yang tertuang dalam makalah berjudul transformasi identitas dari terorisme menjadi pelopor perdamaian, studi menomena komunitas bekas narapidana terorisme Kabupate Poso, Sulawesi Tengah, di Jakarta, Kamis malam 3/10.

"Hasil penelitian saya dalamm upaya mencegah tumbuh dan berkembangnya radikalisme dengan study tersebut, sekaligus membantah teori-teori yang selama ini digunakan dalam upaya deradikalisasi," ucap Dr Lukman S Thahir, dihubungi dari Palu, Jumat.

Kata Lukman, sebelum masuk pada bekas napiter perlu mengetahui proses transformasi identitas yaitu siapa mereka para terorisme tersebut. Berdasarkan hasil penelitiannya, sebelum di cap oleh negara sebagai teroris dan terpidana kasus itu, sekelompok orang di Poso menamakan dirinya sebagai jihadis.

Lalu, bagaimana proses pembentukan transformasi identitas dari bekas narapidana terorisme Poso menjadi perjuang perdamaian ? disini mengandung tiga pendekatan.

Kata Lukman Thahir, pertama memahami diri mereka, jadi setiap orang termasuk pemerintah harus mampu memahami dengan utuh para bekas napiter.

"Untuk dapat memahami mereka, maka harus ada proses membaur bersama napiter mulai. Memaknai mereka, bukan perkara mudah, butuh berbagai pendekatan," kata Lukman.

Kedua, setelah memahami diri bekas napiter, maka harus ada memaknai. Setelah paham dengan diri mereka, lalu dilakukan pemaknaan terhadap mereka. Dalam proses ini meliputi tiga pendekatan, pertama membangun trust atau kepercayaan antara napiter dan peneliti bahkan pemerintah.

"Nah, disini perlu saling percaya, jadi harus betul-betul melebur dengan mereka sehingga bisah terbangun solidaritas dan kebersamaan," katanya.

kemudian, membangun kemandirian mereka para bekas napiter dalam lingkaran hidup mereka yang mau atau tak mau pasti akan ada saling ketergantungan.

"Ada proses determinan sejarah. Dalam lingkaran hidup bekas napiter, mereka tentu mendengar para tokoh-tokoh mereka, mendengar para orang-orang tua mereka," katanya.

Berikutnya, membentuk sikap dan karakter, yaitu bagaimana merespon proses transformasi indetitas dari jihadis atau napiter ke pejuang perdamaian.

Pendekatan ketiga, setelah memahani, memaknai yakni aktualisasi diri. Disinilah para bekas napiter bermain peran sebagai kafilah pejuang perdamaian, setelah mereka memaknai diri mereka.

IAIN Palu mengirim tiga akademisinya untuk menyampaikan hasil penelitian dalam AICIS tahun 2019 di Jakarta. Mereka adalah Dr Lukman S Thahir, Prof Rusli dan Mohammad Nur Ahsan.

Prof Rusli menyampaikan makalah tentang "Pengaruh Akuisisi Pengetahuan Hukum Islam Online terhadap Kebiasaan Produksi Fatwa oleh Ulama Generasi Milenia (Studi Kasus Ulama Junior di Majelis Ulama Indonesia di Sulawesi Tengah". Sementara Moh Nur Ahsan menyampaikan makalah tentang "Pilih yang berpihak pada Islam :Karakteristik pesan dan sumber hadis di dalam ceramah daring Abdul Somad".

Rektor IAIN Palu Prof Dr KH Sagaf S Pettalongi MPd hadir dalam kegiatan AICIS tahun 2019 di Jakarta, mengapresiasi penyelenggara kegiatan tersebut, sekaligus memberikan apresiasi kepada akademisi IAIN Palu yang tampil dalam AICIS tersebut.

Indonesian